Kamis, 05 Juni 2014

SEJARAH : SWARU sebagai desa sekaligus sebagai jemaat Kristen Jawa

PERTEMUAN I
Kamis, 5 Juni 2014






SWARU sebagai desa sekaligus sebagai jemaat Kristen Jawa

Jemaat kita sudah memiliki Profil Jemaat yang mencantumkan sejarah Gereja kita
seperti yang kita mengerti dan kita ketahui selama ini
ternyata masih belum secara detail dapat dikorek dan diceritakan
tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Swaru ini

Hal tersebut dikarenakan minimnya sumber dan bukti-bukti sejarah terdahulu yang sudah didapat /ditemukan
untuk dibaca/ diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari teks bahasa Belanda ataupun teks bahasa Jawa yang minim jumlahnya
Sumber sejarah terdahulu sebagai acuan kita menuliskan profil Jemaat itu sebenarnya memuat penjelasan secara global dan masih sedikit atau kurang detail menerangkan keadaan Jemaat kita (=Swaru)

Sumber / bukti-bukti sejarah kali ini yang dapat menambahkan secara detail situasi dan keadaan Jemaat Swaru:
1.      Arsip berupa buku-buku asli ( ada 40 buku) tahun 1857  (157 tahun yang lalu)
2.      Surat-surat pelaku sejarah
3.      Laporan tahunan para Zendeling (Pendeta Zending) 1857 – 1874
4.      Teks lagu dengan aksara Jawa ( yang digunakan 186.. – 1874)


Swaru adalah sebuah desa; sekaligus sebagai jemaat Kristen Jawa pertama (di Jawa Timur) di daerah Malang. Pertumbuhan jemaat ataupun desa Swaru ini Swaru tidak dapat dilepaskan dan dipisahkan dari Jemaat Mojowarno dan Badan Pekabaran Injil Belanda (NZG= Nederland Zendeling Genostschap)

 (  J Emde  <Jerman>: dapat berbahasa Melayu; tidak menguasai/ tidak faseh bahasa Jawa ?. 
  Jellesma :dapat  berbahasa Jawa.
     >> Jellesma dari Surabaya -- > Jellesma ke Mojowarno (Sudah jadi, diminta membabtis 
           56 orang dan 16 orang di Sidokare,Sidoarjo);(Injil sudah terkabar di/ke mana-mana <<   
           Pertanyaannya Siapa yang mengabarkan Injil ini  ?) –-- > Jellesma ke “Swaru”
           = > Mengabarkan Injil kepada orang Jawa dengan metode pendidikan/ pemuridan

Ada beda antara Pendeta Zending/ Zendeling dengan Penginjil !
ð  Zendeling= Pendeta , DS // Penginjil = Broder/ Bro, saudara laki --- > Jellesma

Wilayah Malang Selatan :
* Mentalitas kesaksian  dengan cara pembukaan desa
* Penginjilan  itu dilakukan oleh orang Jawa sendiri

PEKABARAN INJIL oleh sesama orang Jawa

Desa dan jemaat Kristen Swaru ada/ muncul sebagai perwujudan kesaksian orang-orang yang telah mendengar/ mengenal kabar keselamatan tentang TUHAN YESUS. Orang-orang ini mendapat berita keselamatan dari Jemaat Mojowarno. Sebagai murid KRISTUS mereka semua terpanggil untuk mengabarkan berita keselamatan ke seluruh penjuru dunia

Ada seorang Kyai yang pernah belajar kekristenan kepada Jallesma bernama Kyai Tunggul Wulung; Seorang kyai yang memiliki charisma dan berpengalaman  dalam ngelmu kebatinan Jawa. Setelah mendapatkan berita keselamatan  tentang pengorbanan dan penebusan dosa       oleh TUHAN YESUS, Kyai Tunggul  Wulung terpanggil untuk meneruskan berita keselamatan yang ia miliki itu ke semua orang dengan caranya sendiri ia kabarkan. Kyai Tunggul Wulung berkelana ke mana saja di Pulau Jawa ini untuk mengabarkan Injil termasuk ke daerah Malang. Dimanapun Kyai Tunggul Wulung mengabarkan berita Injil di  situ kemudian tumbuh kelompok Kristen baru

     >> Kyai Tunggul Wulung (=’Suryo Menggala’?) dari Gunung Kelud --- > ngelmu kebatinan; 
           Dari bawah tikar semedi mendapat/menemukan Dasa Titah -- > Wangsit ke hutan Majapahit/
           ke Mojowarno >>> menemui Jellesma  yang sudah pindah dari Surabaya  
           ((beberapa bulan menjadi murid/ berguru))
          = > Tunggul Wulung ini salah seorang tokoh yang berilmu ( Tidak seperti kebanyakan
                 orang-orang muda Jawa lainnya :  Masih kosong) yang ikut babat alas Waru (Swaru)
                 Ia berani potong pohon-pohon besar !
          = > Sharing / meguru salah satunya dengan Jellesma sebelum berkelana (=berpindah-pindah 
                 tempat); (Ada yang mengikuti) ...>>> beda dengan tokoh Jawa Timur yang makrog/
                 menetap :  Paulus Tosari
          = > Tunggul Wulung di mana-mana kabarkan Injil dan ada orang-orang yang tertarik
          = > Dari Kelud  ke Utara -- > Ngantang -- > Kasembon --- > Malang --- > Mburing 
                 -- >  Tumpang -- > Talang Suko -- > Dimoro/ ‘Sudimoro’ (Kepanjen) ---- >
                 buka hutan di Pelar ( ‘Balearjo’) --- > Clumprit, Gunung Kendeng, Pager Gunung

¨       Ada kelompok Kajung (‘Pujon’ ?) dan kelompok Jenggrik (‘Dinoyo’ : orang membuat 
       kwali (=Sekarang: Keramik); (Jarak dari kota Malang 2 pal= 3 km/ 1 pal= 1,5 km)
¨       Junggo dekat Pandaan dan Dimoro, Pelar dekat Kepanjen
<> Kelompok-kelompok Kristen tumbuh tapi Tunggul Wulung sendiri belum di baptis
¨       Sendiri/ berbondong-bondong ? setelah ‘dapatkan orang-orang percaya/ jadi Kristen 
       > buka hutan Pelar ( Pelar cocok untuk pemukiman = 20 orang), di Pelar sudah dibangun 
       rumah ibadah sederhana dari bambu –lebih baik sedikit/ rapi dibanding rumah warga
¨       Tunggul Wulung : Menetap dipelar selama 7-8 bulan dimana tahun 1855 dikunjungi 
       Jellesma  > ( membaptis orang-orang Dimoro dan ada orang Pelar juga)

Kegiatan kesaksian Kyai Tunggul Wulung dapat disimpulkan kemungkinan besar tidak ia lakukan sendirian di dalam ia berkelana/ berpindah-pindah tempat.  Di daerah Malang              tumbuh kelompok Kristen Jawa baru (Kajung- Pujon; Jenggrik- Dinoyo; Dimoro- Kepanjen; Pelar- Balearjo). Maka untuk memelihara dan merawat, melayani kelompok yang baru           tumbuh ini Jallesma mengutus  atau menempatkan murid-muridnya dari Mojowaro                         di masing-masing tempat.

Selanjutnya demi merawat dan mengembangkan kelompok-kelompok Kristen di Malang :           NZG mengutus dan menempatkan tenaga Zendeling di  Malang yaitu S.E Harthoorn.            Selanjutnya dari kesaksian ataupun laporan-laporan mereka : Sejarah dari desa dan Jemaat Swaru bisa dilacak/ dirunut jejaknya
Dusun Dimoro dan Dusun Pelar dalam sejarah desa dan Jemaat Swaru merupakan                        batu loncatan lahirnya desa dan Jemaat Swaru



>> Kita masih belum membicarakan adanya atau munculnya Swaru ketika Zendeling S.E Harthoorn                  
      melakukan kunjungan ke dusun Pelar pada bulan Juli 1859 dan setelah itu ia tidak membuat
      laporan tertulis lagi ini memberikan dugaan rupanya S.E Harthoorn tidak melaksanakan tugasnya  
      dengan baik.
>> Dari tahun 1859 sd 1868 ( 9 tahun) tidak ada laporan tentang dusun Dimoro dan Dusun Pelar ke  
      Zending

>> Ada laporan Zendeling C. Poensen 1868 kepada Zending yang menyatakan bahwa dirinya diutus  
     menjadi konsulen untuk kelompok-kelompok Kristen di Malang mulai tahun 1862.
     Laporan C. Poensen        berupa statistik dan menyebutkan nama Swaru sejak 1864


Penjelasan cerita :
      = > S.E Harthoorn pernah melakukan perjalanan ke Ngigit dan Pulung dowo (sebelah Tumpang)
      = > S.E Harthoorn pulang ke negeri Belanda 1862 tetapi pada 1 Januari 1862 masih ke 
             Dimoro dan Pelar bersama penggantinya Cornelis Poensen yang baru datang  pada  
             bulan  Desember  1861 di Surabaya terus ke Mojowarno terus ke Malang
      = >  S.E Harthoorn naik kuda kecebur di kali Bureng tersangkur akar--- >
              bayangkan bagaimana keadaan jalan dan medan sulit  ( waktu jarak tempuh Malang - Swaru : 
              7 jam lamanya )
      = >  Alasan S.E Harthoorn minta pulang karena beda pendapat (prinsip) dengan Zending/ 
             Badan yang mengutusnya: Ada ketidak cocokan/ tidak enak  dengan metode penginjilan 
             yang ditetapkan (=Metode penginjilan model Jellesma)
    
       = >> (= C.Poensen saat itu belum pandai berbahasa Jawa, makanya dia belum bisa
                membuat tulisan atau laporan ?)
       = >> C. Poensen di tempatkan di Kediri dimana jemaat di sana sudah berkembang dan mandiri 
                yang dibuktikan dengan telah berdirinya rumah ibadah (Jemaat Maron dan Jemaat Aditoya)
                (=bandingkan di Malang baru tempat ibadah sederhana di dusun Pelar). Maka C. Poensen
                direncanakan untuk ngopeni (Jadi konsulen) Malang
      = >> 1864 C.Poensen dari Kediri datang ke Dimoro dan Pelar ( Baru belajar menulis membuat 
                laporan);  (di Pelar Laki: 15, Perempuan 3)

Kesimpulan :
* Pekabaran Injil saat itu dengan buka hutan >> jadi desa >> jadi Gereja
*Pada kunjungan terakhir S.E Harthoorn belum disebut-sebut tentang adanya Swaru dan Pelar 
    masih pada taraf awal dengan dibuatnya rumah ibadah sederhana
* Menurut sumber tulisan Mbah Marius : 2 anak laki-lakinya dari Tumpang di bawa
   ke Pelar


(Bersambung)

baca juga http://rancangankotbahminggu.blogspot.com/2013/12/kilas-balik-jemaat-di-suwaru.html sebagai hasil penelusuran materi sejarah desa dan jemaat Suwaru atau Swaru yang terlebih dahulu dimengerti






PERTEMUAN II
Kamis, 12 Juni 2014

Oleh siapa desa  Swaru ini dibangun ?



Keadaan kelompok Kristen Pelar :
1.      20 Jiwa ( 15 orang laki-laki, 3 orang perempuan, 2 anak); 15 orang yang ingin mendapat baptis (4 orang laki dan 1 perempuan tidak lulus dalam percakapan dengan Jallesma); 11 orang dibaptis di Dimoro.
2.      Jallesma dan Harthoon setelah melakukan babtisan di Dimoro melakukan perkunjungan ke rumah-rumah warga di Pelar



I.                    Tunggul Wulung 7-8 bulan di Pelar memperluar wilayah dengan membabat hutan di sekitarnya (awal 1855 sd akhir 1855). Tunggul Wulung ‘yang berilmu tinggi’ ikut ‘babat alas’ alas waru-- > jadi nama Swaru
Pembukaan hutan ada ijin dari pemerintah Belanda dan aturan tebang pohon; Contoh Harus ada hutan lindung/ pohon-pohon di pinggir jalan/ ‘keliran’…

II.                 >Tokoh-tokoh lain yang berjasa/ ikut babat alas ( Zakeus; … Krama; Andrian; Krama .. (murid Bernadus)); bersama berapa warga Pelar terlibat ikut babat alas (?).

(1.   Pasca babat alas bedol desa, catatan di Pelar tidak ada lagi warga Kristen tapi beberapa  
waktu kemudian tercatan ada 1 orang warga- perkiraan ia kembali ke Pelar karena ada sesuatu hal dengan kelompok ‘gerombolan’ di Swaru.
                 2.. Embrio desa == > Kepala desa pertama Zakeus setelah babat alas (mungkin sekali                           kita selama ini belum mengenalinya, sebab secara administrasi pemerintahan                                   Belanda dikenal kepala desa ‘resmi’/ aris : Kromo seco)

>Ada intrik perbedaan pendapat / pandangan terkait psykologi- karakter tokoh-tokoh;
   Zakeus/ Zankius/ Zangkioes orangnya ‘mumpuni’ sehingga ia dijadikan kepala             desa; tubuh kecil; Jenaka/ riang/ pemberani -- > Rumahnya di atas jurang
   Andrian (Saudara laki-laki dari Bernadus dari Mojowarno) orangnya berpenampilan
   ‘kalem’; tanpa emosi; tidak begitu berkembang; tidak pandai tetapi bisa beri jalan 
    keluar
    dari persoalan dan punya pengaruh besar atas warga Swaru; cara berbicara 
    ‘mbapaki’/’momong’
   Kromo … (murid Bernadus) orangnya aktif kreatif; rajin; cekatan; mudah kerja 
    sama dengan siapa saja; orang yang harus dikendalikan karena bisa bersikap keras 
    dan kaku; selalu siap di sampng Zendelling  dalam segala hal
   Mangoen … (murid Zendelling Kruijt dan Zendelling Roskes ) orangnya maju; bisa
    menulis/ penulis -- > penulisan data pasien dan mempersiapkan obat-obatan; agak         malas
   Zacharias (pernah menemani Zendelling C.Poensen) orangnya aneh/ khas; tidak           bisa menulis; tidak bisa membaca; rajin Pekabaran Injil di Kediri yang dianggapnya       mudah (di Swaru/ Malang sekarang, tidak)

III.               Zendelling S.E Harthoon dan Zendelling H Smeding, Sabtu siang mampir ke Pelar dalam perjalanan ke wilayah pekabaran Injil Kediri (Madiun dan Mojokerto 9 sd 29 Juli 1859), Berangkat dari Malang ditemani Guru Injil Soleman- melewati hutan sampai di dusun Pelar. Kelompok Pelar kecil (warga 25 orang). Warga Pelar berkumpul & menyambut di rumah Guru Injil Andrian—(malam) bertemu adakan percakapan; membangun ibadah- menyanyi dari buku nyanyian dari Jallesma dan tembang Jawa; Mempercakapkan Doa Bapa Kami >>>(pagi hari,Minggu) adakan ibadah di gereja gedeg (bambu); (Satu-satunya gereja di wilayah kerja penginjilan Malang; >>> (Minggu Siang) meninggalkan Pelar menuju Kepanjen, bermalam (Keesokan hari) >> menuju Sumberpucung ke arah Kediri
Catatan : Zending (Saat itu ada keinginan untuk menyatukan warga Kristen di kelompok-kelompok wilayah Malang (Jenggrik, Kajang, Junggo, Nginggit, Dimoro) jumlah warga masih sedikit di setiap kelompoknya itu ke dalam satu tempat tinggal di satu desa’. Kelompok Kristen di Malang berbeda dengan kelompok-kelompok Kristen di Kediri

IV.              1860 – 1862 Tidak ditemukan laporan tentang kelompok Kristen Dimoro dan Pelar. >>>Januari 1862 Zendelling Harthoon menemani Zendelling C.Poensen sebagai tenaga baru melakukan kunjungan kerja ke wilayah pekabaran Injil Malang (Kunjungan singkat sebagai perkenalan lapangan, belum dibuat laporan tertulis)

((Swaru desa penginjil … oleh kelompok awal/ cikal bakal jemaat))
V.                >>Tahun 1862 – 1863 adalah waktu prakiraan Desa Swaru dibangun/ dihuni  oleh orang-orang Kristen sekitarnya dari Pelar, Dimoro dan beberapa orang Jenggrik (Berdasar perkiraan kronologi waktu yang dapat kita susun)
>>Tahun 1864 tidak lagi disebut dusun Pelar dan Dimoro pada laporan Poensen

     Januari 1864 Zendelling C.Poensen melakukan kunjungan ke-2 ke Malang dari Kediri,    
     membuat laporan pendek :
     1. Tentang keadaan wilayah pekabaran Injil Malang.
     2. Menyebut nama desa Swaru.
     3. Membuat laporan statistic warga Swaru 111 orang, L=25 P=28 Anak-anak 58;  
     (Jenggrik 24 orang, L=8 P=7 Anak-anak 9; Nginggit 15  orang, L=5 P=2 Anak-anak 8)

Ada beberapa hal yang dapat dicatat :
                 1>1862-1867 Swaru hanya ditunggui  oleh tenaga pembantu Zendelling Andrian.
                 2>Semangat bersaksi dan kesetiaan akan kebenaran TUHAN YESUS warga Swaru  
                      sangat luar biasa sehingga jumlah warga Kristen desa Swaru bertambah-tambah.

=>> (Jumlah Zendelling / Pendeta Zending di Jawa Timur saat itu sedikit sekali maka dikatakanlah keadaan Swaru ini adalah sisi kelam dari sejarah zending di Jawa karena Swaru untuk beberapa tahun (… tahun) tanpa tenaga Zendelling.
Pada kunjungan 1862 Poensen sudah mengatakan bahwa ia tidak mungkin lagi menjadi konsulen di Swaru itu disebabkan oleh karena jarak antara Kediri ke Swaru terlalu jauh (Menempuh jarak 100 pal = 150 km; 1 pal = 1,5 km --- > dengan gambaran 23 pal = 35,5 km ditempuh sehari perjalanan === > maka jarak tempuh 100 pal : 23pal = 4,23 hari)

=>>Warga Swaru yang ingin dibaptis dan mendapat peneguhan perkawinan harus melakukan perjalanan jauh ke Kediri ( 150 km )

=>>Warga desa Swaru yang masih tergolong baru ini mewujudkan pelayanan cinta kasih  melalui bidang pendidikan dan juga mengupayakan pendirian sebuah gedung gereja yang terletak di perempatan jalan desa (Pembangunan gedung gereja dan penyelenggaraan pendidikan diutamakan seperti halnya dahulu ketika masih berada di Pelar). Warga Swaru bisa melakukan semuanya itu  karena percaya penuh pada kekuatan ROH KUDUS dan Kuasa kebenaran TUHAN YESUS

>> Tahun 1869: Ada pertanyaan yang sengaja dibuat oleh Zendelling Johannes Krijt dalam laporan pekujungannya ke Swaru  juga sangat penting bagi kita atau siapa saja yang ingin tahu terhadap keberadaan Swaru : Oleh siapa desa  Swaru ini dibangun ?.

Jawabannya adalah Desa Swaru dibuka oleh orang Kristen Jawa di Malang terutama orang-orang Kristen di Pelar ( yaitu orang-orang Kristen yang menemui C. Poensen dengan perjalanan 100 pal = 150 km).

>>Tahun 1869 di Pelar ada 1 orang laki-laki, berdasarkan laporan statistik Poensen)

1869 (Berdasarkan laporan Zendelling Johannes Krijt ketika melakukan  kunjungan ke Jemaat swaru)
Swaru sebuah desa baru kurang lebih 60 0rang dewasa laki dan perempuan
Swaru sebuah desa terang cerah bercahaya terletak di daerah yang menguntungkan, daerah subur, segala sesuatu yang dibutuhkan para petani Jawa tersedia, utamanya air. Tanah di buat persawahan. Tanpa kesulitan orang mengalirkan air meskipun di daerah berbukit-bukit-  naik turun
Warga Swaru tampak sebagai orang yang baik-baik dan rajin terhadap segala upaya membuka desa. Satu persatu tanah garapan dibangun/ diatur sesuai dengan budaya Jawa.
Desa Swaru ini bagus pekerjaan pembangunan dilakukan agak secara besar-besaran. Hal ini terlihat dari cukup banyaknya pekerjaan membuka jalan-jalan yang lebar.

Pertanyaan bagi kita atau siapa saja terhadap keberadaan Swaru : Oleh siapa desa  Swaru ini dibangun ?.
Desa Swaru dibuka oleh orang Kristen Jawa di Malang terutama orang-orang Kristen di Pelarlah yang membuka ( orang Kristen yang menemui C. Poensen dengan perjalanan 100 pal = 150 km).

VI.              1867 : Laporan Zendelling C.Poensen (Jenggrik 24 orang sudah baptis, L=8 P=8 Anak-anak 8  --16 orang ingin baptis; Swaru 110 orang sudah baptis, L=22 P=25 Anak-anak L=27 P=36 --- yang ingin baptis anak-anak L 15 P=15 ; Ngigit 13 orang sudah baptis, L=5 P=3 Anak-anak L=5 P=0 --- yang ingin baptis 13, dewasa  L=2 P=3 Anak-anak L=4 P=4)
Di Swaru sudah dibuka sekolah setiap hari, jumlah murid 32, L=15 P=18

VII.           Poensen tidak bisa menjalankan tugas konsolen dengan baik karena terkendala jarak Swaru – Kediri cukup jauh’
Poensen tidak pernah berkunjung ke Swaru sejak 1864
Kelompok Kristen Swaru tanpa tenaga Zendelling Belanda masih dapat hidup dan berkembang.
Poensen menuliskan dan dalam surat-suratnya kepada NZG/ Badan Pekabaran Injil Belanda tentang keluhan-keluhannya atas Swaru :
1.Minta (berharap) dikirim tenaga Zendelling untuk Swaru --- > Akhirnya terwujud harapan dengan ditugaskannya Johannes Kreemer
2.’Kita tidak bisa memuji kesadaran/ kesetiaan mereka (Kelompok Swaru). Sebelum kita melihat lebih jauh iman Kristen  mereka… dengan pendidikan  tertentu akan lebih baik lagi, saya kira bahwa masih jauh waktunya untuk disebut sebagai suatu Jemaat. Dan hal itu akan bisa terwujud jika warga mulai mempercayai pendeta. Sebenarnya banyak jalan di depan kita untuk mewujudkan harapan kita atas bangsa Jawa ini. Jika saja kita mau berjalan bersama dengan mereka sampai akhir.Tetapi kita tidak bisa melaksanakan tugas/pekerjaan besar ini dengan mengandalkan kekuatan sendiri … menyenangkan jika penuh rasa syukur. Saya siap menceritakan kepada anda perjalanan kunjungan kerja yang pertama saya ke Swaru. Saya tinggal di sana selama 10 hari berturut-turut. Perlu anda ketahui bahwa yang akan saya kerjakan dan saya lihat dan perhatikan setiap hari

Catatan : 12 tahun ( 1862 – 1874) masa tanpa pendeta zending/ Zendelling == >
1.(Pada masa 12 tahun tanpa pendeta zending:) Jumlah jiwa bertambah 2 kali lipat 
    setelah dikurangi dengan banyaknya warga meninggal dunia; Beberapa orang 
    mundur/ tidak setia.
2.(Pada masa 12 tahun itu:) Kelompok Swaru dibiarkan sendiri maka dapat 
     dibayangkan betapa beratnya perjuangannya hidup di tengah-tengah masyarakat lain      kepecayaan.
                 3.(Selama masa 12 tahun itu:) kelompok Kristen Swaru selalu kecewa ketika berharap                       untuk memiliki Zendelling (Pendeta) sendiri.
                 4.(Pada masa 12 tahun itu:) Tugas Guru Injil sangatlah berat ketika banyak warga yang
                     ingin dibaptis dan akan menyerahkan perkawinan karena dalam setahun Guru Injil
                     harus mengantarkan mereka semua ke Kediri bisa 3 – 4 kali dengan menempuh  
                     perjalanan yang berat terlebih pada musim/ cuaca buruk- hujan

VIII.         1869 : Laporan Kunjungan Zendelling Johannes Krijt ke Jemaat swaru ketika mengikuti Zendelling C.Poensen kepada NZG/ Jemaat-jemaat di Belanda

27 Juni 1869 : 5 orang (C.Poensen, J.Kruijt, Silvanus- pembantu Zendelling di Maron dan 2 orang murid C.Poensen) berkuda berangkat dari Mojowarno (Salah satu kuda adalah milik almarhum Jallesma—Jallesma meninggal karena sakit desentri) dengan rute : Kertorejo -- > Ngoro -- > Kandangan -- > menembus hutan  ke arah Ngantang -- > Bat u terus Jenggrik -- > Malang -- > Swaru

Sekarang lihatlah gedung gereja mereka, terletak di tempat khusus yang dikelilingi pagar dan tentu saja berada di tengah desa. Hal itu menunjukkan betapa kuatnya iman  dan perhatian  mereka pada agama Kristen. Gedung gereja itu setiap minggunya dipenuhi warga jemaat dan di Swaru ini kami menjumpai 11 orang dewasa dan 51 anak-anak yang akan diajukan baptis.

Sementara itu pembantu Zendelling Andrian setiap harinya dengan rajin mengajar 30 anak-anak di sekolah. Apakah hal itu bukan sesuatu yang luar biasa ?

Teman-teman yang baik , jika saya mengirim kabar pada anda tentu anda akan heran bahwa ketika saya hadir dalam kebaktian minggu yang dipimpin Zendekling Poensen dengan liturgi yang khidmat seperti yang juga dilakukan di Jenggrik. Tahukah anda berapa orang yang hadir ? 62 orang dewasa !
Karena itu kami mohon segeralah kirimkanlah tenaga Zendelling ke Malang (Swaru)

IX.              1874 : Dengan kedatangan/ ‘ditunggoni’ Swaru oleh Zendelling J.Kreemer == > Swaru ‘menjadi’ sebuah Jemaat ‘pribumi’ di Jawa
25 tahun yang lalu (1849 ?) Swaru sudah di kenal orang-orang di Karesidenan Surabaya berdiri Jemaat Mojowarno dan di Karesidenan Pasuruan
12 tahun ( 1862 – 1874) tanpa didampingi Zendelling/ pendeta zending

Kedatangan I kali Zendelling Johannes Kreemer di Swaru
(bersambung…. )



Perenungan :
1.Bagaimana keadaan dan semangat Swaru sekarang ketika tanpa ‘ditunggoni’ pendeta ?, 
   dan
2.Bagaimana keadaan dan semangat swaru sekarang ketika sudah ‘ditunggoni’ seorang
   pendeta ?
                 3.Bukankah kisah di atas merupakan suatu kisah sejarah yang sungguh sangat luar biasa
                    dengan iman yang kuat dan sebagainya, dan sebagainya… Jemaat Swaru bisa berdiri
                 4.Sadarkah kita bahwa pada masa lampau membangun desa ini dengan iman dan dengan
                    kekeristenan ?
                 5.Tidak banyak Zendelling mau di kirim dari negeri Belanda ke Swaru/ Jawa pada saat 
                     itu 
   Meskipun kita mengenali beberapa nama :
1) Jallesma;
2) S.E Harthoorn (beda pendapat tentang metode penginjilan dengan Zending);
3) C.Poensen (konsulen);
4) Johannes Kreemer (Pendeta Jemaat)



Pertemuan III
Kamis, 19 Juni 2014

1
Kedatangan I : Zendelling Kreemer di Swaru

20 Maret 1874 pagi-pagi buta dari losmen di kota Malang Kreemer berangkat ke Gondanglegi dengan kereta sewaan milik orang Cina seharga f 28.

Demikian catatan perjalanan yang ditulis Kreemer …

Jalan ke arah Gondanglegi berada di atara pohon jati yang sedang berbunga, pandangan mata ke kanan tampak gunung Kawi ke kiri tampak gunung Semeru yang mengepul kukusnya. Sungguh indah !. Menjelang masuk Bululawang terlihat pemandangan yang indah yaitu bentuk de Meri … Setelah pukul 12 siang tidak terasa kami hamper sampai tujuan.
Seorang laki-laki  Jawa berkuda bersenjata untuk melindungi diri tiba-tiba mendekati saya. Berkata :”Kita sudah dekat Swaru”. Ia adalah saudara-saudara dari desa Swaru yang menjemput pendeta/ Zendelling . Sebelum saya naik ke pelana kuda, saya berkenalan dengan salah seorang berperawakan kecil. Ia bernama Zankioes/ Zakeus ia tampak pemberani, riang, jenaka tetapi sangat siaga. Kudanya berjalan dekat di belakang kuda saya, dengan posisi demikian kami terus sibuk bercakap-cakap. Sesudah berjalan 3 pal (4,5 km) perjalanan, kami mencongklang kuda dengan cepat, salah satu dari rombongan kami berjalan memimpin di depan. Di sana di jalan masuk di antara pepohonan ada seseorang yang mengintai kedatangan kami, kemudian terdengar letusan senjata : sebagai satu gambaran kegembiraan !. Kuda saya dibuat terkejut. Datang dengan cepat untuk meraih tali kekang kuda saya dan menuntun kuda saya sampai ke rumah Guru Injil. Di sana ada kejutan lagi : 80 murid sekolah menunggu kami dengan berpakaian rapi bebaris 2 banjar, menabur bunga dan menyanyikan lagu selamat dating di pimpin oleh seorang guru- yang dulu ia adalah murid saya di Mojowarno. Suara mereka terdengar sangat gembira dan penuh kasih dalam kesederhanaan serta penuh ketegangan melantunkan lagu sambutan terhadap pendeta yang dating dari Mojowarno kiranya dapat bekerja sama dengan kami. Kiranya kedatangannya bersama isteri diberkati Tuhan untuk waktu yang lama dapat menggembalakan kami …

Selanjutnya saya berkenalan dengan semua warga Swaru yang berkumpul di rumah Guru Injil. Mereka kelihatan sangat bahagia, bahkan besoknya ada yang datang lagi dengan membawa buah-buahan miliknya dengan mengucapkan : “Selamat datang”. Saya terus menemui untuk waktu yang lama mereka karena kegembiraan saya dan karena rasa syukur saya kepada Tuhan yang mempertemukan saya dengan mereka. Saya juga berterimakasih atas penyambutan yang menyenangkan. Seorang dari mereka maju ke depan dengan sikap membungkuk khidmat dan sangat sopan.

---------  
2
Siang hari saya berkunjung ke sekolah, begitu para murid melihat saya dating langsung berkumpul. Keadaannya sangat menyedihkan, tapi toh menimbulkan rasa heran saya bahwa dalam keadaan yang begitu menyedihkan. Saya melihat mereka tetap dapat belajar dengan giat. Sebagian besar dari mereka telah mengenal huruf  dan bisa membaca, berhitung. Tapi pada waktu saya melihat tidak seluruhnya bisa berbahasa Melayu. Buku-buku pelajaran tidak ada, alat-alat tulis/ grip dan kertas dan meja tulis tidak ada. Sebagian besar anak-anak duduk berhimpitan di tanah yang lembab di ruang yang sempit. Papan tulis tidak ada. Apalagi peta maupun alat-alat peraga. Mereka terlalu berharap berlebih atas kemampuan dan tugas guru yang hanya digaji f 10 dan f 5 per bulan. Saya tidak bisa membayangkannya !.

Maka nanti ketika saya sudah tinggal di Swaru,saya akan mengajar di sekolah tiap hari. Dan gaji guru harus dinaikkan. Kalau tidak, maka di sana kan terjadi seperti di Mojowarno : Guru mengajar di sekolah dengan tidak melakukan persiapan; semuanya disebabkan dia harus bekerja mencukupi kebutuhan keluarga dengan mencari kayu bakar, ngarit/ ngrumput dan lain-lain yang sebenarnya semua itu pekerjaan seorang kuli.

Tentu saja para pembantu Zendelling (para guru) seluruhnya tertarik pada pekerjaan kasar dan itu tentu tidak baik. Kita harus menyadari dan memahami mereka dengan pekerjaan rumah yang membuat mereka tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan otak  sebagai guru. Sekolahan di Swaru bisa disebut primitif. Semua alat-alat belajar tidak ada. Dari NZG (Badan Pekabaran Injil Belanda) tidak mengirimkan apa-apa. Saya di sini haru membeli segala keperluan belajar itu di Surabaya, tentu dengan harga yang mahal. Maka saya mohon untuk dikirimi segala keperluan sekolah, baik papan tulis, bangku dsb. Saya mohon teman-teman di Nederlang bisa membantu.

Di Swaru ada permintaan untuk membuka Taman kanak-kanak karena ada 35 anak-anak usia 4 – 6 tahun. Saya berjanji akan memikirkannya. Dengan keyakinan penuh, saya berjanji bahwa aka nada pembukaan dan kelanjutan  yang akan saya lakukan. Kesulitan utama bukan pada soal biaya melainkan pada soal mencari guru TK

Sekeluar dari sekolah, saya sudah ditunggu antrian orang-orang sakit yang akan berobat. Setelah mencatat nama-nama mereka, tempat tinggal, usia, keluhan sakitnya, sudah berapa lama dan sebab-sebabnya. Saya mengobati mereka satu persatu-satu sesuai dengan tujuan saya dating ke Swaru. Di sini menggunakan metode sebagaimana saya gunakan di Mojowarno pada tahun 1873. Saya berikan kepada 2500 pasien dan hamper 6400 kali obat-obatan meningkat. Dalam mengerjakan pelayanan orang sakit ini saya dibantu oleh seorang yang bernama Mangoen mantan murid Zendelling Roskes

Sesudah makan siang dan istirahat. Acara selanjutnya saya berkunjung ke rumah Zankius. Rumahnya terletak di tempat tinggi dekat dengan jurang di tengah desa. Saya mengundang semua orang Swaru untukdatang ke rumah Zankius. Mereka berkumpul memenuhi pendapa. Pendapa rumah Zankius lebih luas jika disbanding dengan gereja apalagi sekolahan. Kami saling mengucapkan terima kasih atas kebersamaan yang memberikan harapan dan memberikan banyak bahan pikiran demi kebaikan desa dan jemaat. Petremuan saya akhiri dengan membacakan Filipi 2 : 1 – 11

Dilanjutkan dengan acara jalan-jalan keliling desa dan diikuti oleh orang banyak. Bentuk desa yang teratur. Kira-kira berbentuk empat persegi panjang dengan luas masing-masing berbentuk sangkar dipotong jalan  dengan pagar hidup yang luas, di sini di sana pagar kopi rapat menjuntai. Sayangnya masih banyak halaman rumah yang masih belum dimanfaatkan. Memang sudah ada beberapa yang menanami pohon buah-buahan. Tetapi masih banyak yang belum menanam pohon kopi sepanjang pagar mereka, juga jalan-jalan desa yang lebar tidak semua terawatt dengan baik. Sebetulnya kebiasaan malas masih ada….. Mereka tampak tanpa kemauan keras, tidak ada daya tahan yang cukup

21 Maret, sesudah menangani pasien yang sakit kami berangkat ke Tanah Wangi, sebuah pesanggrahan, perkebunan yang baik terletak kurang lebih setengah jam perjalanan dari Swaru. Hal itu saya lakukan untuk mengenal keadaan sekeliling Swaru. Dalam perjalanan ini saya hanya ditemani oleh Andrian, Kromo dan Zankius. Setelah berjalan sepanjang desa, kami sampai di sebuah jurang di mana di dalamnya terdapat sumber air minum yang bening. Permukaannya tampak sangat dalam di tepi tebing apalagi dengan latar belakang hutan, orang tidak bisa menggambarkan betapa cantiknya. Di seberang jurang masih belum ada jembatannya, dan dari sisi yang licin membuat orang harus waspada dan berhati-hati untuk menuruni atau menaikinya. Akhirnya kami toh sampai di atas. Di tempat ini Zankius menawari saya untuk membangun rumah/ pastori. Ia berkata kepada saya :”Tuwan jika suatu saat nanti Tuwan akan mendirikan pastori di sini (Swaru), tempat lokasi itu menjadi salah satunya yang menurut kami cocok  untuk bagian depan”. Antara kaget dan kagum saya menjawab : “Ya, saya sekarang akan pertimbangkan hal itu”’ Ia melanjutkan bicaranya :”Dari sini orang akan kembali melewati suatu lurung (jalan) yang lebar dan kuat sejajar dengan desa”. Dengan kagum saya menjawabnya :”Tobat, tobat !. Kedengarannya rencana itu bagus. Lalu semua itu dibuat oleh siapa ?”. “Oleh kami”: Jawabnya. Kami memiliki tanah di seberang tetapi oleh desa kami ditarik dan oleh saudara-saudara kami yang lain kemudian ditempatkan di sini”. “OK, Zankius sungguh bagus partikelmu, dengan cara itu kamu bisa mendapatkan tempat tinggal yang ‘omber’ (luas) dan tambahan tanah yang lebih luas”. Melalui jalan melingkar akhirnya kami sampai pada makasud jalan-jalan kami. Di akhir jalan yang panjang yang kami lewati ditutupi oleh pohon/ tanaman kopi. Para mandor yang ditugasi sebagai pengawas, pekerjaannya tiada lain hanya mengawasi 700 orang perempuan sedang bekerja memetik buah kopi yang mahal itu. Tanah Wangi terletak di tempat yang bagus di pinggir sebuah danau, susunan perkebunannya sudah teratur baik. Kandang-kandang yang bersih dan kering untuk tempat hewan pengangkut (sapi, kerbau, kuda) kelihatan bersih dan dikerjakan dengan baik. Saya bertanya kepada Andrian: “Apakah sampeyan melihat kandang-kandang itu ?. kebersihan itu diperlukan agar kerbau-kerbau tidak berdiri di sekitar tinja (tletong) maupun perutnya sampai terendam dalam lumpur”. Pikiran Andrian melayang ke kandang sapinya yang kotor. Dan saya harap sesudah melihat pengalaman ini kerbaunya akan dipelihara dengan baik. Kemudian saya berkata :”Lihat kopi-kopi itu, berapa kira-kira untungnya, jika teman-teman di Swaru menanam kopi. Tapi yahh… kita tidak akan kaya kalau kita tidak rajin bekerja”. Tanah Wangi posisinya sangat indah terletak menghadap ke kedung air (semacam danau) yang terbentuk oleh meluapnya air sungai. Di lingkupi gunung semeru dan gunung Kawi, di seberang sana terhampar kebun kopi dari tanah Limbung. Pohon dadap yang tinggi berdiri sebagai batas dengan tanah luar perkebunan. Kita dapat (Saya) menyesalkan, bahwa ada kekayaan yang melimpah ini tidak dilakukan untuk perbaikan dan perkembangan penduduk yang miskin tetapi malah dieksploitasioleh perusahaan/ pabrik.

Sore hari kembali ada kumpulan untuk persiapan beptis dan pencatatan perkawinan. Meskipun tanpa gembala ternyata tidak berubah. Memang ada sepertiga warga yang keluar karena perkawinan dengan orang berkeyakinan lain (mslm) dan sepertiga lagi telah meninggal dunia. Hali itu tentu hasil kerja Zendelling Pensen bahwa jumlah warga jemaat masih banyak. Hal itu toh juga sarannya dan juga bantuannya bahwa warga kelompok-kelompok di Malang yang tinggal berpencaran kemudian atas kehendak sendiri pindah masuk Swaru berkumpul menjadi satu dan membuka hutan waru/ alas waru…………… (huruf Jawa)

Kita sekarang mulai membuka buku/ regrister baptis selanjutnya buku tersebut dikelola dengan baik, disimpan dengan benar

Minggu 22 Maret, sesudah menangani pasien berobat saya mempersiapkan diri untuk memimpin ibadah yang diselenggarakan di rumah Zankius. Persembahan terkumpul F 2,08. Kelompok Swaru telah memiliki uang-dana (Uang gereja) f 100. Sebesar f 30 dipakai membeli lumbung miskin untuk menyimpan hasil panen (presentrijst), kemudian bila harga padi bagus bisa dijual dan uangnya untuk kebutuhan gereja. Saya menawarkan kepada mereka untuk menyimpan uang tersebut di bank tabungan

Menjelang malam harinya saya berjalan-jalan sendiri ke kuburan. Kuburan tampak teratur, di sana telah dimakamkan 15 orang. Jika nanti banyak yang meninggal dunia maka kuburan itu tentu cepat penuh dan sempit tetapi orang masih bisa membuka hutan di sebelahnya untuk memperluas makam. Tiba-tiba orang-orang dating mencari saya. “Wah ternyata Tuwan berada di sini”. “Jika menjelang malam kami (warga di sini) tidak berani ke tempat ini, Tuwan”. Saya sangat berbahagia, ternyata orang-orang Kristen  di sini sangat peduli dan mengkhawatirkan saya.

23 Maret, rencana kami akan memulai kunjungan ke rumah warga tapi batal kaerna hujan. Selama di Swaru saya tinggal di rumah Andrian yaitu sebagian dari rumahnya, meskipun telah diperbaiki, toh masih banyak angin dan lembab. Saya memutuskan hari ini tinggal di rumah saja untuk mengatur ruangan tempat saya menginap ini. Karena di rumah ini tidak ada tempat membawa air, juga gedeknya bolong-bolong. Meskipun orang-orang di sini telah mempersiapkan segalanya dengan sebaik mungkin bahkan 3 minggu sebelum ke datangan saya.

24 Maret, Kondisi badan saya telah segar kembali, saya ditemani Zacharias, Zankius, Kromo dan beberapa orang lagi berangkat ke Selatan Swaru. Kami akan mencari tempat tinggal yang cocok/ tepat di Wono Lopo untuk orang-orang yang pertama. Sebab saat ini tempat yang di Pager Gunung tidak hanya terlalu jauh dari Swaru tetapi juga karena tempat itu berbatu-batu dan berpasir serta tidak menguntungkan. Sementara kami berjalan kea rah Barat daya menyebrangi jurang selanjutnya menyebrang ke Sumber Blingtak di Lesti. Air yang mengalir dari sumber ini terletak di atas yang disebut jurang. Air ini menjadi air minum bagi warga Demangan, suatu desa di perbatasan. Melalui bantuan dam Dawuhan (dam terbuat dari tanah dan bambu untuk mengairi sawah mereka. Di sini dan sekitarnya masih hutan dengan pondok-pondok didirikan di sini dan di sana. Di dekat sekitarnya terletak banyak desa yang tidak terdapat dip eta Karesidenan Pasuruan. Sekitar 1 pal ke Barat terletak Gongang, 2 pal ke Utara orang akan sampai di Pelar. Sesudah berjalan kira-kira 1 jam, orang akan sampai Demangan Lord an Demangan Kidul di tepi sungai Lesti yang lebar. Sengguruh yang tampak dalam peta terletak kira-kira 5 pal ke Barat dari desa kita Swaru. Nun jauh kea rah Selatan adalah gunung Kendeng yang terkenal dengan kayu besinya (walikukun). Gunung ini terletak di belakang ujung batas laut kidul, tempat Nyai Roro Kidul yang terkenal karena kejahatannya.

Kami menyebrangi sungai Lesti yang indah, satu cabang dari sungai Brantas. Melewati jembatan bamboo yang ringan tapi kuat. Di daerah ini pemandangannya sangat indah. Di bawah derasnya arus, di batas ambang tepi air di tumbuhi tumbuhan/ rumput tropis yang tenal, bamboo, pakis dan pohon kelapa. Tidak jauh dari jalan di mana air kali dangkal ada serombongan kerbau menyebrangi sungai, mereka tahu tempat yang dangkal atau yang dalam. Mereka berjalan dengan kalem berbaris dari depan ke belakang dan saling berdekatan sehingga mereka semua sampai di seberang. Itu pemandangan yang tampak dari jembatan bambu tempat kami berdiri. Tampak sebagai lukisan, sehingga membawa pikiran saya melayang ke Friesland & Holland. Apakah teman-teman lamaku masih mengingat saya ?. kemudian kami bisa mencapai tepi sungai di seberang. Kami melanjutkan perjalanan ke hutan Lopo dan akhirnya kami sampai di hutan Lopo yang mengarah lurus ke Gunung Kendeng. Banyak pohon-pohon besar di sini telah ditebang sehingga sungai Lesti bisa tampak jelas. Jalan setapak yang kami lalui selanjutnya menuju Darungan, sementara memasang tenda, ada kebebasan untuk para pembuka hutan dan ada kebebasan untuk menemukan beberapa tempat, padi dan tembakau tetapi kebanyakan adalah tembakau. Apakah tanah di sini cocok untuk tembakau yang laku/ laris untuk dieksport/ dikirim keluar ; jutaan uang akan didapat. Hal seperti ini bagi orang Swaru merupakan sumber penghasilan/ penghidupan. Di sana di kejauhan tampak gunung Gamping dimana kami dimungkinkan untuk mengambil kalk/ gamping sebagai salah satu bahan bangunan rumah.

“Bagaimana pendapat Sampeyan Kang?” : Tanya Zankioes akhirnya kepada Zacharias ketika kami  sudah sampai pada suatu tempat yang pada kedua sisinya dialiri oleh sungai kecil. “Apakah tempat ini tidak cukup baik bagi kanca-kanca /teman-teman Sampeyan ?”. dulu di tempat ini pernah dihuni orang dari Demangan, lihatlah pager-pager waru yang tinggi itu. Tetapi mereka merasa kesepian sendiri lalu kembali ke Demangan”. Saya bertanya : “Apakah di sekitar sini masih ada desa lagi, Zangkioes ?”. “Ya, Tuwan di sana di sebelah Barat gunung Gamping ada Gondoroto dan di sebelah selatan Rantur (Bantur ?) dan yang sudah agak besar/ ramai ada di sebelah Timur yaitu Culemprit”. “Baiklah, Kyai Zacharias, semua terserah sama Sampeyan, sebenarnya daerah ini adalah tempat suatu wilayah kerja yang bagus untuk seorang tukang Injil (evangelist)”. Selanjutnya kami mencari tempat yang lain lagi yang lebih cocok, tetapi tempat ini bukan tempat yang basah tetapi air dari Lopo dapat dialirkan melalui darungan, tanahnya sebenarnya bukan tanah lempung yang berminyak yang sangat lengket, melainkan tanah hitam dan dobel berbatu-batu. Untuk orang Jawa tanah di sini dari kwalitet biasa yang cocok untuk tembakau dan padi gaga. Mungkin ia (Zacharias) sendiri bisa membuka sawah di sini.

Gunung Gamping … dialog Zankius dengan Zacharias …. Bertemu dengan seorang pembuat gula aren ….. di sini dialog Kromo dengan paman tersebut. Contoh cara ber PI ( halaman 263 )
Setelah melewati sungai, kami duduk di atas terasan (tanggul/ pinggir kali) berdampingan sedang yang lainnya tetap berdiri. Menurut pendapat kami Lopo mengalir ke laut, kedua sisinya rimbun ditumbuhi tanaman. Dari sana dating seorang lelaki berkulit gelap (cokelat) teman senegeri, ia berjalan lurus sepanjang kali dengan memikul/ nengguluk bambu dipundaknya. Karena kami datangi ia berhenti sejenak memandang kami dengan ramah dan bersahabat. Ia tidak tahu apakah yang harus ia lakukan. Kromo bertanya :”Apakah Sampeyan tinggal di sini Kang ?”. “Ya” : Jawabnya. “Apakah masih ada orang lain lagi selain Sampeyan yang tinggal di sini ?”. “Ya hanya satu”. “Apakah di sini Sampeyan mersa kesepian Kang ?”. “Ya …”. “Apakah Sampeyan menginginkan ada teman-teman (orang lain) yang dating ke sini ?”. “Ya tentu saja, mengapa tidak”. “Kalau begitu dengarkan ya Kang, kami ini semua orang Swaru dan Tuwan itu yang mengenakan kacamata adalah pendeta kami. Ia baru saja dating di tempat kami (Swaru) bersama kami. Dan sekarang harapan Tuwan saya ialah apakah salah satu dari kami boleh tinggal di sini ?”. “Apakah Sampeyan punya anak Man (Paman) ?”. “Ya!” (dengan rasa heran). “Jika salah satu dari kami tinggal di sini maka Tuwan saya itu akan mendirikan sekolah di sini dan akan memberikan seorang guru, dan tahukah Sampeyan Man bahwa di kota memang juga ada sekolah tetapi di sana sekolah harus membayar, sedang di sekolah Tuwan kami tidak meminta apapun (gratis), anak-anak Sampeyan akan menjadi anak pinter. Pendeta kami juga mempunyai obat yang siap pakai dan jika sampeyan sendiri atau anak atau isteri Sampeyan sakit, pendeta kami akan memberikan obat gratis. Ia dapat menyembuhkan segala penyakit dan semuanya gratis. Kang Sampeyan di sini rupanya benar-benar tidak berbahagia karena sendiri sama seperti kerbau yang kesasar yang tidak punya gembala”. Selama dialog ini berlangsung dari permulaan permintaan ijin dan ekspresi keterkejutan/ keheranan tidak tampak. Sementara itu saya bisa menengarai bagaimana bantuan gratis kita dari Zendelling dipublikasikan oleh para pembantu Zendelling (guru Injil), hal itu dipakai sebagai alat /tuas pengumpil untuk mereka yang masih merasa asing dengan orang Kristen agar kemudian bisa masuk sebagai warga jemaat Kristen. “Kang apakah Sampeyan punbya air minum untuk kami ?”. “Ya mampirlah, di sana itu adalah rumah kami, di sana kami membuat gula aren, barangkali di rumah masih ada sisa legen”. Kemudian kami segera menuju rumah rumah tukang aren. Di dalam pondok sederhana/ primitive ini di tengah-tengahnya ada dapur/ pawonan dengan 3 lobang yang di atasnya terdapat/ menumpang 3 wajan. Di dalam wajan inilah air legen dari pohon aren direbus. Jika air legen di wajan besar sudah agak asat dipindahkan ke wajan yang agak kecil. Selanjutnya wajan yang kecil sampai kental lalu diangkat dicetak dalam cetakan bambu. Setiap pagi dan sore ia memasak legen seperti itu. Setiap 12 potong gula dibungkus dalam daun aren. Pedagang dating ke sini membeli /kulak kemudian menjualnya ke pasar-pasar-pasar di sekitarnya. Tukang gula aren ternyata ramah seperti manisnya legen yang dingin maupun gula arennya. Tukang gula aren meminta ijin untuk naik mengambil gula dari “paga” bagi kami, dia kelihatan sangat senang bahwa bisa bercakap-cakap dengan kami. Di atas tungku/ pawonan digantungkan sebuah “paga” untuk menyimpan gula aren agar tetap kering. Dan akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa orang ini memang tidak berbahaya (bagi orang Kristen). Ketika saya tiba di rumah dalam keadaan basah kuyup, ternyata tukang gula aren telah dating di rumah Andrian menunggu kedatangan saya. Ia tentu melihat bahwa saya sangat suka dengan gulanya, setidaknya itu terlihat dari 96 potong gula aren yang dibawanya untuk saya dan masih ditambah lagi dengan uang untuk membeli obat bagi seluruh keluarganya.

Pada 25 – 28 Maret, saya melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga, selama kunjungan ini saya ditemani oleh Andrian dan Kromo. Dalam perkunjungan, saya menggunakan cara yang sama dengan yang saya lakukan di Mojowarno ketia saya mencari seseorang di sana. Pertama-tama kepala/ pimpinannya, selanjutnya orang kebanyakan, mempercakapkan semuanya, bercakap-cakap santai yang ringan-ringan dengan sengaja mengangkat soal rumah dan halaman sekitarnya, kegiatan, memuji kebersihan (kesucian), menulis semua nama-nama anggota keluarga dan anak-anak sudah baptis apa belum, apakah sudah memiliki tanda baptis, apakah anak-anak rajin sekolah dan katekisasi atau apakah masih mempunyai keluarga yang beragama lain (mslm), apakah biasanya /kebanyakan peristiwa/ kejadian dan atau orang juga juga mendorong perasaan orang untuk memberitakan kabar baik kepada orang lain. Yang paling akhir adalah tidak ragu-ragu lebih banyak kea rah kesejahteraan, perkakas rumah, rumah, lumbung, sapi/ kerbau pekerja dan lain-lain.

Dalam ibadah Minggu tanggal 29 Maret, saya berkotbah tentang Jemaat Tuhan Yesus, kematian, baptis, selanjutnya penerimaan 9 orang warga dewasa baru ke dalam persekutuan Jemaat. Dalam berbagai acara Ibadah saya banyak menggunakan nyanyian dari Zendelling Hoezoo dan C. Poensen yang dinyanyikan dengan lancer dalam bahasa Jawa dengan nikmat mereka menghayatinya. 40 ekslempar buku dalam sekejap habis. Persembahan bisa terkumpul f 9,50. Pada kesempatan ini teman saya di kota bisa mempersembahkan ‘schaal’ untul air babptisan. Siapa lagi kiranya teman-teman yang mau mempersembahkan alat-alat perjamuan kudus. Di sebuah jemaat baru masih banyak kebutuhannya, juga lonceng gereja belum dipunyai oleh Jemaat Swaru. Wah saya koq terlalu banyak meminta ya.

Siang harinya saya meneguhkan perkawinan sepasang calon pengantin, bertempat di pendopo/ bernda rumah Zankius

Senin pagi saya pulang ke Malang

Surat tertanggal : 15 – 4 – 1873







---------------
(Mededeelingen no.20/thn 1876)
Laporan Zendelling Johanes Kreemer tentang keadaan Malang (khususnya Swaru) tahun 1874

Selama ini Zendelling J.Kreemer masih memaksakan diri untu bertempat tinggal di kota Malang. Sebenarnya Swaru telah menyiapkan rumah kecil sederhana dari gedeg. Sayangnya kalau musim hujan rumah itu tidak cocok- tidak layak untuk ditempati. Sedang untuk membangun rumah pastori permanen masih membutuhkan banyak kayu. Meskipun begitu Zendelling Kreemer dan isterinya sudah menyelenggarakan perayaan Natal bersama dengan warga Swaru.

Zendelling Kreemer telah mengajukan permohonan permintaan kayu di hutan yang gratis, jika permohonan itu dikabulkan tentu ia akan segera memulai membangun rumah pastori. Tetapi ia masih terus mengingat bahwa gedung sekolah dan gedung gereja terlihat memprihatinkan. Maka ia meminta bantuan uang kepada teman-teman di Belanda. Ia membutuhkan f 6000 sementara ini ia telah bisa mengumpulkan f 1000, pemerintah di Malang membantu f 180. Beberapa waktu yang lalu warga juga ada kesanggupan member bantuan dari orang-orang Belanda di Jawa. Kreemer juga mengharapkan juga orang-orang Belanda di Friesland dan Holland yang mau membantu.

Warga Jemaat Swaru berjumlah 374 jiwa L= 196  P=168 yang semuanya berada dalam 193 keluarga. Kreemer sangat sering bertemu dan bergaul dengan mereka. Ia melayankan baptisan dalam setiap setiap perjalanan dinasnya atau orang-orang Swaru sendiri yang mendatanginya di Malang. Ia seringkali membagikan obat-obatan.

Kadang-kadang ia dengan isterinya berkunjung ke Jenggrik, suatu desa tempat orang membuat tembikar, menghadiri kebaktian dimana 12 orang berkumpul dalam sebuah rumah Jawa yang kecil. Mereka menerima dengan senang Kidung Pujian berbahasa Jawa yang disusun oleh Zendelleng Hoezoo dan C.Poensen. Dengan penuh semangat  dan bahagia mereka menyanyikannya. Kreemer telah membeli buku kidung sebanyak 50 eksemplar. Dahulu, SE Hartorn pernah menunggui Jenggrik ketika jemaat di sini masih banyak jumlahnya. Sejak sebagian besar orang Jenggrik pindah ke Swaru di Jenggrik masih terdapat 3 kotak berisi kitab suci dalam bahasa Jawa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tanpa banyak bertanya, Kreemer langsung memboyong Kitab Suci itu ke Swaru untuk digunakan oleh orang Swaru dan disimpan dalam almari kayu jati khusus untuk Kitab Suci.

Menurut Kreemer kitab suci perjanjian Lama lebih sulit dipahami dibandingkan dengan Perjanjian Baru, utanya Injil Markus.  Di sisni ( Swaru) para perempuan membaca Kitab Suci lebih lancer dari pada pria, sebab di sekolah Zending anak perempuan lebih rajin masuk sekolah dari pada anak laki-laki.

Laporan ini selanjutnya mengenai para pembantu Zendelling di Swaru yang mana potert (bukan foto) mereka baru beberapa bulan yang lalu di kirim kepada redaksi di Nederland
1.      Andrian, ia adalah saudara laki-laki dari Bernardus dari Mojowarno, ia berpenampilan sangat kalem, tanpa emosi, tidak begitu berkembang, tidak pandai tetapi ia punya pengaruh bnesar atas warga Swaru dan kalau ia berbicara selalu ‘mbapaki’ (momong).
2.      Kromo, ia adalah seorang muridnya Bernardus di Mojowarno, pribadinya aktif, rajin dan cekatan, kraetif dan mudah bekerjasama. Suatu saat ia bisa bersikap keras dan kaku sehingga harus dikendalikan. Tetapi di desa ia selalu siap sedia disamping Zendelling dalam segala hal.
3.      Mangoen, orang ini maju. Dahulu ia adalah murid Zendelling  Kruijt dan zendelling Roskes. Ia menguasai untuk penulisan data pasien dan mempersiapkan obat-obatan yang akan dipergunakan. Sayangnya orang ini agak pemalas.
4.      Zacharias, ia adalah orang yang aneh/ khas, tidak bisa membaca maupun menulis. Dahulu ia menemani Zendelling C.Poensen dan waktu itu tampak lebih rajin mengkabarkan Injil dari pada sekarang. Tetapi ia mengatakan bahwa pekerjaan mengabarkan Injil di Kediri lebih gampang dari pada di Malang. Ketika Kreemer memberitahu dia bahwa ia gagal dalam ber-PI membuat ia putus asa. Sehingga karena itu, Ia meninggalkan daerah yang berbatu-batu dan berpasir : Pager Gunung kemudian dengan beberapa warga jemaat ia tinggal di hutan Wonolopo. Di hutan itu ia membangun gubug sederhana, tetapi untuk tidur malam hari mereka masih di dahan-dahanpohon karena tkut harimau. Ia adalah orang yang selalu siap sedia siang malam, tidak ‘angel’/ tidak sulit; Sebagai orang yang rindu pada Firman Tuhan- dalam hal ini dari segala sisi ia bisa disamakan dengan Paulus Tosari di Mojowarno’

Para pembantu Zendelling dating setiap 2 kali seminggu kepada Zendelling untuk mengikuti pendidikan lanjutan. Kreemer melayani/ menangani mereka dengan persamaan, dengan kekinian/ sesuai kemajuan jaman. Hal ini yang selalu dibutuhkan Zendelling utamanya pendidikan.

Sekolah di Swaru pada tahun 1874 mempunyai 88 anak. 70 orang anak adalah Kristen sedang sisanya Muslim. Di awal 1875 mereka ini akan lilus. Mereka itu murid-murid yang pandai membaca dan menulis baik bahasa Melayu maupun bahasa Jawa, mereka juga mampu berhitung dan juga mengenal ilmu bumi. Kebanyakan dari mereka kemudian akan sidhi dan selanjutnya kawin. Dan tentang proses dari perkawinan orang Jawa, Ia menyampaikan dengan agak sedih.

Ia mengeluh dengan sangat tentang lokal sekolah yang seluruhnya sangat tidak cocok dan tentang kebutuhanalat-alat belajar mengajar; begitu juga dengan bangku sekolah yang remuk. Ia meminta dengan sangat bantuan dari setiap orang yang peduli pada pendidikan. Kreemer memberikan sebuah contoh gambaran sekolah di Swaro :”Sekolah guru berada di sebelah rumah saya. Hal ini memaksa saya harus bekerja total. Di sini ada 5 orang siswa dan 4 diantaranya adalah dari Mojowarno. Dengan senang hati saya pernah melihat sebagian besar mata pelajaran; tetapi biaya untuk itu sangat mahal. Di sana Kreemer mengkombinasikan sejumlah mata pelajaran dengan alat bantu. Orang harus bertanya/ mengetahui, bagaimana mungkin Kreemer bisa mengkombinasikan sebanyak/ semua itu. Sebab menyusun semua mata pelajaran dengan alat-alat bantu secara lengkap seperti sekolah yang terbaik. Yaitu; Pelajaran tentang Kitab Suci, menyayi, membaca dan menulis Jawa dengan huruf Jawa dengan karakter Arab, bahasa Melayu dengan Romawi dan dengan karakter Arab, ilmu bumi umum dan khusus, berhitung biasa dan decimal, pelajaran menggambar dan juga ilmu pendidikan. Ia juga memasukan pelajaran ilu pasti, menggambar ilmu bumi, ilmu alam, pengetahuan tentang manusia dan tentang kesehatan.

Ia menulis ke Belanda sebabagi berikut : “Hai Belanda”, saya mendidik dengan sengaja dan terencana. Buku nyanyian Zendelling Poensen diajarkan dengan tertib dan dinyanyikan di sekolah dengan baik dan bersemangat. Murid-murid sangat rajin, tetapi Kreemer masih memprihatinkan soal kerapian dan tentang menulis. Jika diperlukan, murid-murid diberikan PR dengan maksud agar mereka lebih teratur, lebih rapid an terbiasa dengan peraturan

Dalam laporan ini, yang menjadi perhatian Kreemer adalah tentang pendidikan/ sekolah. Kepada pemerintah ia mengkritik penanaman tembakau dimana uangnya dikirim keluar, jeleknya pelayanan kepada orang miskin. Adanya diskriminasi antar orang Eropa dan Jawa, begitu juga kepada perempuan.

(Laporan ini masih ada kelanjutannya)



Minggu, 04 Mei 2014

ANUGERAH atau UPAH !

Ibadah Keluarga
Kamis, 1 Mei 2014





ANUGERAH  BUKAN  UPAH ?

ANUGERAH
atau
UPAH !





MATIUS 20 : 1 – 16







Matius 5 : 12a, b
Bersuka cita dan bergembiralah,
karena upahmu besar di sorga







Bapak Ibu Saudara yang terkasih
di dalam TUHAN YESUS KRISTUS
Pada tanggal 1 Mei 2014 ini
 kembali kita peringati Hari buruh sedunia
dan
di negeri kita
mulai tanggal 1 Mei tahun ini
dan
tahun-tahun berikutnya
dijadikan hari libur nasional

Seberapa penting tanggal 1 Mei ini
sehingga dijadikan
sebagai hari libur nasional
 di dalam memperingati hari buruh dunia ?


Bapak Ibu dan Saudara
ada sepenggal kisah sejarah
 yang terkait
dengan buruh dan majikan
pada tahun 1886
di Amerika Serikat

Kita mengetahui
 di Amerika Serikat pada saat itu
sudah berubah menjadi negara industry
  dimana buruh dan majikan
 memiliki posisinya masing-masing


Bapak Ibu Saudara yang terkasih
Tuntutan kerja kaum buruh Amerika
 saat itu
 8 jam sehari
untuk melawan diberlakukan jam kerja
 antara 12 – 16 jam seharinya

Melalui demo-demo,
para demonstran
 yang berjumlah sekitar 250.000 buruh
sejak bulan April 1886
menyuarakan keinginannya

Dan sampai pada tanggal
1 Mei 1886
 terus semakin menguat
mencapai 500.000 buruh
yang berdemo
di kota Maine kemudian meluas ke kota Texas;
dan dari kota New Jersey meluas ke kota Alabama
yang berakhir dengan jatuhnya korban jiwa
 dalam suatu bentrokan yang terjadi

Nah
dari peristiwa jatuhnya korban jiwa
dari kaum buruh ini,
peristiwa 1 Mei
dikenang
 sebagai bentuk penghormatan
dan
apresiasi
akan perjuangannya

Tanggal 1 Mei ditetapkan
sebagai Hari Buruh seDunia

Arti kata buruh
 menurut kamus bahasa Indonesia
berarti seorang yang bekerja
untuk orang lain
dengan mendapatkan upah / bayaran.

Yang berarti
ada pekerja yang menerima upah
dan
ada majikan / tuan yang member upah.

Tugas pekerja adalah
bekerja dengan sebaik mungkin 
untuk menyenangkan hati tuan
 yang telah memberi pekerjaan


Bapak Ibu dan Saudara
Kita sering berpendapat
bahwa upah itu
ditentukan dari seberapa lama
 orang tersebut bekerja
 atau
seberapa banyak pekerjaan
yang diselesaikan / dihasilkan


Bapak Ibu Saudara yang terkasih
di dalam TUHAN YESUS
Petrus
sebagai murid
yang senantiasa menyertai TUHAN YESUS
sempat melontarkan dan mempertanyakan
 tentang apa yang akan ia peroleh
 apabila ia meninggalkan segala sesuatu
 untuk mengikut YESUS TUHAN
MATIUS 19 : 27 – 30

TUHAN YESUS
 juga berkenan memberi jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan
 yang senada
 seperti pertanyaan Petrus
di perikop terdahulu
Upah mengikut YESUS

Di dalam perikop
tentang Perumpamaan
 tentang orang-orang upahan
di kebun anggur
Itulah jawaban TUHAN YESUS
MATIUS 20 : 1 – 16

TUHAN YESUS menjelaskan
tentang keberadaan Kerajaan Sorga
 seperti halnya
 kegiatan yang terjadi
di dalam kebun anggur
dimana ada hubungan kerja
 antara penggarap  dan pemilik kebun anggur

Siapa yang dimaksud
 sebagai pemilik kebun anggur ?

Pemilik kebun anggur itu
disetarakan dengan pemilik
atau
 penguasa Kerajaan Sorga
 yaitu TUHAN YESUS

Perumpamaan ini
 untuk memudahkan penalaran
 serta
pemahaman para murid
dan
membantu setiap orang
termasuk kita semua
yang saat ini
sedang menjalin hubungan ‘iman percaya’
kepada YESUS TUHAN

Iman percaya
yang sesungguhnya memang  sulit
 untuk dipahami dan tidak mudah
 untuk dipraktekan
di dalam kehidupan sehari-hari,
tetapi seperti inilah pekerjaan Sorgawi
yang berhubungan langsung
 dengan pekerja-pekerjanya

ALLAH
yang penuh belas kasih dan adil
 di dalam setiap keputusannya;
Bukankah setiap pekerja akan mendapatkan upah ?

Tetapi
 dengan belas kasih
upah itu sudah disediakan.

Seberapa besar upah
atas jerih payah kita
seandainya kita diumpamakan
sebagai pekerja ALLAH ?

Upah itu
 sebesar kasih karunia ALLAH
 atau
sebesar anugerah
dari ALLAH

Upah itu
 tidak seperti pemikiran dan angan-angan kita
sebagaimana manusia pada umumnya
 hidup di dunia ini
secara umum menilai beban kerja,
seberapa lama waktu bekerja
 dan
menurut ukuran
besar kecilnya tugas tanggung jawab


Bapak Ibu Saudara yang terkasih
Ada upah
yang mula-mula dijanjikan
sebelum ‘kontrak kerja’ disepakati.
Besaran upahnya
adalah sebesar janji itu
 bila pekerjaan dapat diselesaikan

Upah
dari iman percaya
yang  dipraktekan
oleh setiap orang
yang mengikut KRISTUS TUHAN
 adalah sebesar janji ALLAH
 yang ia mengerti dan yang ia pahami

Inilah upah dari Kerajaan Sorga

Apabila tidak percaya
 dan
tidak mau
 melakukan pekerjaan-pekerjaan sorgawi
 mana mungkin
ia akan mendapatkan upah Kerajaan Sorga
yang sudah dijanjikan
di awal perkenalannya
 dengan pemilik sorga

Apabila ia percaya
kemudian ia bekerja
kemudian tidak percaya
dan
 akhirnya meninggalkan pekerjaannya
Mana mungkin
ia akan mendapatkan upah
 dari Kerajaan Sorga
karena ia telah memutuskan hubungan kerja
dan
 tidak mempercayai


Bapak Ibu dan saudara
Sedemikian maksud
dari perumpamaan
 tentang Kebun Anggur

1.
Pemilik kebun anggur
menjanjikan upah
1 dinar per hari
dengan rentang waktu kerja
sejak matahari terbit sampai terbenam

Ini kesepakatan kerja
 dan
tentang upah kerja
untuk penggarap mula-mula

( ayat 2 :  )

2
Pada pukul 09.00 ( 9 pagi);
12.00 (12 siang);

pukul 15.00 ( 3 Sore)
dan
 17.00 ( 5 sore )
pemilik kebun anggur
 secara berturut-turut melakukan penambahan
 jumlah penggarap


Jelas di sini
 Bapak Ibu Saudara yang terkasih
Masalah penambahan penggarap
kebun anggur ini
 secara berturut-turut
 bukan atau tidak terkait
 dengan luasnya lahan kebun anggur
tetapi
 sekiranya sangat terkait
dengan banyaknya orang
yang menganggur tanpa pekerjaan

( ayat 3 – 8 : )

Juga terkait
 dengan masalah belas kasihan
dari si pemilik kebun anggur
 sehingga
dengan penuh belas kasihan
 si pemilik kebun anggur
memerintahkan semua orang
untuk bekerja
di kebun anggurnya

Pengangkatan pekerja baru
 dengan perbedaan waktu ini
 juga bukan
 karena pertimbangan masalah
kecakapan atau pengalaman kerja
dari masing-masing penggarap

Sebab
sangat nyata
dari upah yang diberikan
dan
upah yang dibagikan
 ternyata sama besar dan banyaknya

Rupanya
 si pemilik kebun anggur
memakai sistem ‘sama rata’
di dalam pengupahan


Bapak Ibu dan Saudara yang terkasih
Maka timbullah
rasa tidak puas
diantara para pekerja kebun anggur
 terutama si pekerja mula-mula
yang sudah mulai bekerja
sebelum pukul 09.00
( 9 pagi )

( ayat 9 – 12 :  )


Sekali lagi
Bapak Ibu dan Saudara
Adilkah
perbuatan si pemilik kebun anggur ini ?
Jawabannya adalah
adil


Mengapa adil ?
Karena
 kepada penggarap pertama atau terdahulu
 memang ada janji kesepakatan
tentang upah

Sedangkan
kepada penggarap-penggarap yang terkemudian
si pemilik kebun anggur
menyatakan kemurahan hatinya

( ayat 13 – 15 :  )

Demikianlah maksud
dari perumpamaan
yang mengkaitkan masalah upah
dan
belas kasih dan kemurahan hati ALLAH
kepada setiap orang
 yang terpanggil
 untuk mendapatkan kasih karunia
atau
anugerah

Sebab
 tidak seorangpun yang layak
untuk masuk
ke dalam ke Kerajaan Sorga
Hanya
 oleh karena anugerah
dari ALLAH saja
kita menjadi layak
 untuk masuk
 ke dalam KerajaanNYA

Maka timbulah pertanyaan
 pantaskah kita ini menuntut
 kepada ALLAH
untuk ‘membayar’ atau memberikan upah
 atas kesetiaan,
juga atas buah-buah pelayanan kita
 dan
apakah kita juga selayaknya merasa berjasa
di dalam pekerjaan kita
bagi ALLAH ?

Hal yang sedemikian :
tidak layak
Bapak Ibu dan Saudara

Tetapi yang layak bagi kita
Yang seturut
dengan perumpamaan tadi
adalah
 kita menantikan upah
atas kemurah hatian dari ALLAH

( dengan catatan )
 asalkan kita
 tetap dengan sungguh-sungguh percaya
 dan
 tulus hati,
tidak memperhitungkan waktu pelayan
pekerjaan kita
 dengan membanding-bandingkan
dengan pekerjaan dan pelayanan orang lain
 di sepanjang kehidupan ini

Upah itu
 yang menentukan adalah
ALLAH

Teruslah melayani
 dan
terimalah upah
atau
 anugerah dari ALLAH

Sekali lagi :
 Lakukanlah semuanya itu
 dengan suka cita dan gembira
 seperti ada
 sudah tertulis :
Bersuka cita dan bergembiralah,
 karena upahmu besar di Sorga

TUHAN YESUS memberkati kita

AMIN










1.      Votum/Berkat
2.      Pujian Kijem  13 : 1, 2 
ALLAH BAPA, TUHAN
 
3.      Doa :
Ø  Syukur
Ø  Mohon penganpunan
Ø  Undang Roh Kudus.
           AMIN

Pembacaan Alkitab : MATIUS 20 : 1 - 16

4.      Pujian Kijem  50a : 1, 4, 6 
SABDAMU ABADI

  1. KOTBAH …..

6.      Pujian Kijem  426 : 1, 4 
KITA HARUS MEMBAWA BERITA

  1. Doa syafaat :
Ø

8.      Pujian Kijem  406 : 1
YA TUHAN, BIMBING AKU
Berkat