Kamis, 29 Desember 2011

Menelusuri sejarah perkembangan GKJW

Jemaat Tunglur di Pare, 1889. Pernah menjadi pusat pertumbuhan kekristenan di sekitar Pare. Saat ini dengan 27 KK sebagai warganya berdiri di tubir urbanisasi. Jemaat ini dulunya hasil diaspora umat Kristen Jawa dari Ngoro.
 kalo berdiri tahun 1889 berarti sama dengan jemaat Sindurejo MD Kediri Selatan. kalo Sindurejo hasil migrasi dari Mojowarno. selain karna kebutuhan lahan, migrasi ke Sindurejo juga karna sakit hati.
 Ya, saya mengistilahkannya sebagai «diaspora» tahap kedua, setelah tahap pertama pada kisaran 1848-1880 membentuk sejumlah jemaat utama GKJW saat ini: Mojowarno, Ngoro, Kertorejo dan Bongsorejo (semuanya dalam satu fase) lalu di sebelah selatan Suwaru kemudian Peniwen. Diaspora tahap kedua ini membuat sejumlah komunitas baru tumbuh secara terpisah dari nukleus kekristenan: Sindurejo, Tulungrejo dan Wonoasri di Kediri, Tunjungrejo di Lumajang, Dupak di Magetan, Wotgalih di Ngawi, Aditoya di Nganjuk, Maron di Blitar dan Sumbergondang di Lamongan.
 Perkembangan sejumlah jemaat Kristen pada periode 1880-1900 ini, yang saya sebut sebagai «diaspora» tahap kedua, berkaitan utamanya dengan masalah peningkatan kesejahteraan. Namun berbeda dari «diaspora» tahap pertama (1848-1880) yang masih diwarnai unsur mesianik, pada tahap kedua ini motif dominan masih soal memenuhi kebutuhan ekonomi. Soal sakit hati yang membuat terjadinya imigrasi, saya kira perkembangan Sindurejo mirip dengan Tunjungrejo. Namun perlu dilihat lagi pada tataran «mikro-narasi» agar ketahuan leit-motive yang mendorong pergerakan masyarakat ini. Demikian seulas menurut saya. Hehe.
 mengapa MA GKJW ada di Malang, padahal yg sy thu cikal bakale dri ngoro ?
 Ada analisa yang perlu diralat ketika Anda melakukan pentahapan. Perlu dicermati bahwa GKJW Maron-Blitar sudah berkembang pada angka tahun 1859 dengan embrio jemaat berada di Togogan (4 km utara Maron) yang sudah bertumbuh sejak 1830 oleh gerak penginjilan Kyai Djosep&Kyai Matius Anip murid Coolen. Sekitar 1846 jemaat Kristen dipindah dari Togogan ke Maron karena tidak mau membayar pajak kepada Belanda. Sehingga dari data tersebut Maron termasuk gereja generasi pertama di GKJW.
 ‎1) Pak, terima kasih atas informasi yang jenengan tambahkan. Saya tertarik dengan informasi bahwa Jemaat Maron berdiri pada 1859. Sumber tertulis yang diberikan Nortier (1939) mencatat bahwa Maron didirikan 1851. Saya sendiri meragukan informasi yang ditulis penginjil NZG ini, sebab banyak cerita lisan yang ada dalam khazanah kekristenan Jawa namun tidak disertai data-data tertulis. Beliau mencatat saat itu bahwa berdasarkan keterangan lisan yang dihimpun, Jemaat Maron berdiri hampir bersamaan dengan jemaat di Ngulug, Ponorogo – yang kini dikenal sebagai Jemaat Tumpuk (kalau tidak salah). Hanya saja, tidak ada nama-nama pendiri yang disebutkan. Ini saya kira merupakan keterbatasan dari data yang dimiliki NZG. Jika saya boleh tahu, dari peristiwa apa tahun 1859 dapat ditetapkan sebagai pendirian Jemaat Maron. Apakah karena ada pembaptisan pertama di Maron, atau karena ada pembukaan desa yang dilakukan oleh orang yang telah dibaptis sebelumnya.
 ‎(Catatan: Kiai Yusuf di Maron ini bukan Kiai Yusuf Baris asal Majawarna yang kelak menjadi penginjil di Jawa Tengah bagian utara?)
2) Saya setuju dan dapat menyakini bahwa sekitar tahun 1830-1840-an sudah ada sekelompok orang Jawa di Togogan, Srengat, yang belajar agama Kristen. Mereka boleh jadi merupakan murid-murid dari Kiai Yusuf dan Kiai Aniep. Saat itu, Coolen dari Ngoro memang gemar mengutus murid-muridnya mengabarkan Injil, seperti halnya seorang bernama Wiryasentika dikabarkan menginjili di sekitar Caruban, Madiun. Jika memang Kiai Aniep terlibat mendirikan suatu komunitas yang belajar agama, maka pendapat saya Togogan lebih tepat disebut Jemaat Pra-Kristen, sebab Kiai Aniep sendiri baru dibaptis 12 September 1844 bersama Kiai Paulus Tosari di Surabaya. Saya melihat bahwa keberadaan jemaat pra-kristen di Togogan itu menarik itu diteliti. Jika diizinkan saya mau sowan dan «nanggap» pengetahuan ke sana. Hehe, atau paling tidak dari jenengan.
‎3) Sepengetahuan kami, selain Kiai Aniep, Kiai Tosari, ada juga Kiai Ibrahim Tunggulwulung yang pernah mencoba mengabarkan Injil di sekitar Blitar, Tulungagung dan Kediri bagian selatan. Namun sejauh catatan yang saya miliki sekitar tahun 1850-1860 tidak ada baptisan yang dilakukan oleh penginjil NZG atau Gereja Hindia Belanda untuk wilayah Malang, Blitar dan sekitarnya. Bisa jadi saya yang kurang informasi. Mohon diluruskan.
 trmks tlah menambah pengetahuan saya..
di Tulungagung juga ada jemaat Tumpuk pak, tepatnya di ds/kec besuki TA sebelah utara pantai popoh. yg bpk maksud yg ini/di ponorogo juga ada Tumpuk yg lain.
  Inggih, nuwun Pak . Ada 158 jemaat di GKJW, gereja terbesar di Jawa Timur.
 Oh ya angka 1859 diberikan oleh Akkeren dalam buku Dewi Sri&Kristus. Tetapi data baptisan pertama di Gereja Maron adalah 30 Oktober 1858 di mana Mbah Stephanus Martosudarmo cucu Kyai Trogati Sidokare dibaptis oleh Pdt. Poensen dari Kediri. Tanggal 30 Oktober menjadi tanggal yang sejak tiga tahun ini diperingati menjadi HUT GKJW Maron. Sementara keberadaan jemaat di Togogan sudah ada semenjak 1830 dan Jelesma sempat mengunjungi pada 1849.
 Masuk akal Kyai Matius Anip menginjil dulu, baru pada 1844 dibaptis apabila mengaitkannya dengan kisah Abdulah Tunggul Wulung yang menyebarkan injil di daerah Peniwen dan selatan Jawa terlebih dulu kemudian baru dibaptis Jelesma. Apalagi Kyai Matius Anip adalah murid Coolen, dimana Coolen gurunya tidak mendulukan baptisan.
 Memang butuh perenungan mendalam, apakah mbah-mbah kita dulu semuanya sepakat bahwa kekristenan mereka baru absah jika mereka sudah dibaptis? Seringkali deviasi pemahaman seperti ini membuat perdebatan sejarah diri kita sendiri malah tidak produktif. mBok sekali-sekali rada tak acuh kayak mBah Ibrahim Tunggul Wulung salah satu murid Coolen yang tetap berkarya walaupun sempat diragukan kekristenannya oleh Jellesma. Toh, akhirnya Jellesma mengakui karya penginjilannya di Wilayah Selatan Malang...
4) Terima kasih atas keterangannya. Wah, ini rangsangan yang menarik untuk dilanjutkan belajar ke Maron. Pak Wawuk, memang putra Maron yang sejati. Bila line up dari Maron memang larinya ke arah Sidokare, saya kira sangat masuk akal. Sidokare sebagai jemaat Kristiani binaan dari Emde, bubar sekitar tahun 1850-1860an. Untuk nama Stephanus memang muncul di catatan Poensen (maaf, dia penginjil dan bukan pendeta Gereja Hindia Belanda) tapi akan saya pelajari lagi catatan NZG, mungkin saja pembaptisan itu dilakukan di Kediri, tempat Poensen bekerja dan melakukan sebagian besar kerjanya. Untuk itu kalau diizinkan saya akan sowan ke Maron guna belajar lebih lanjut.
  5) Saya kira Maron punya beberapa overlay sejarah. Pertama ada kelompok yang belajar kekristenan di sekitar Togogan, Srengat. Sekitar situ memang banyak peminat kebatinan dan tokoh «sakti» yang bersembunyi pasca Perang Jawa (1825-1830). Kelompok di Togogan ini sifatnya pra-Kristiani, dalam arti belum dibaptis. Kemudian setelah periode di mana Kiai Aniep dibaptis di Surabaya, 1844 dan seterusnya, ada perkembangan penginjilan di sekitar Togogan, sehingga membuka komunitas Kristen «baru» yang sudah dibaptis. Lalu setelah pembaptisan sejumlah orang yang menghasilkan nukleus kekristenan baru, maka selewat 1859 baru ada komunitas Kristen Jawa yang «babat alas» memindahkan Togogan ke Maron. Selanjutnya saya kira pekerjaan di sekitar Blitar diwarnai banyak orang, khususnya oleh orang eks Sidokare yang berimigrasi, kemudian juga oleh buah tangan dari Ibrahim Tunggulwulung. Demikian kesimpulan saya sementara.
 ‎6) Saya tidak terlalu yakin, maaf tentang kehadiran Jellesma di Togogan. Sebab pada 1848 dia baru pertama kali diberi izin masuk ke Mojowarno oleh Residen Surabaya. Sebagai penginjil, di bawah Inlandsche Staatregels, dia tidak boleh melakukan perjalanan tanpa izin residen. Padahal Blitar saat itu masuk Keresidenan Kediri. Malang saat itu masuk Keresidenan Pasuruan. Jadi, pada 1849 menurut saya kecil kemungkinan Jellesma jalan-jalan sampai Blitar. Maaf ini sekadar analisis saya.
  ‎(Catatan: Pak , nuwun sewu sedikit memperbaiki. Penginjil yang tidak mau membaptis Ibrahim Tunggulwulung adalah penginjil Doopgezinde bernama P A Jansz dari Pati, justru yang membaptis tokoh yang jenengan kagumi itu adalah Jellesma dari NZG!)
 He he he he koq tahu aja  kalau saya kagum sama mBah Ibrahim Tunggulwulung he he he he
Saya cuma seneng eksentrik-nya saja yang out of frame dari pola pemikiran pada umumnya pada waktu itu... he he he he he
 Migrasi jemaat Togogan ke Maron pada versi yang saya baca adalah akibat dibuang/dihukum Belanda karena komunitas Kristen yang adalah eks prajurit Diponegoro membangkang tidak membayar pajak. Ada 14 orang Kristen di Togogan ditangkap&diasingkan ke hutan rimba angker tempatnya di Maron. Mekaten Bung Dawn Trader dan para sahabat sepenggal versi yang kebetulan saya baca. Mungkin perlu dilanjutkan dengan sejarah lokal Tunglur atau beberapa tempat yang disebutkan di atas. Mangga dipunlajengaken....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jadikan dan berikan komentar anda sebagai refleksi diri bukannya mengomentari kejelekan dan kekurangan kami